Home Forum Hibah Dikti Enam Kolaborasi Riset RI-Inggris Berburu Newton Prize 2019

Topik ini mengandung 0 balasan, memiliki 1 suara, dan terakhir diperbarui oleh  asepx 8 bulan, 1 minggu yang lalu.

Melihat 1 tulisan (dari total 1)
  • Penulis
    Tulisan-tulisan
  • #2537

    asepx
    Peserta

    Enam kerjasama analisa dari ilmuwan Indonesia-Inggris masuk dalam karunia Newton Prize 2019.

    Finalis Newton Prize Indonesia-Inggris meliputi riset mengenai perlindungan komune wilayah pesisir dari efek perkembangan iklim, infrastuktur jembatan yang berkepanjangan, usaha mencegah penyakit menyebar, rumor relokasi serta pemberdayaan wanita, dan perlindungan lokasi pesisir serta mitigasi perkembangan iklim.

    Dana yang akan diberi untuk pekerjaan analisa serta pengembangan paling baik ini sampai 200 ribu poundsterling (sama dengan Rp3,5 miliar) di tiga negara, China, Filipina, serta Indonesia.

    Dana Newton Prize akan menolong lanjutan kerjasama analisa internasional yang berperan penting dalam pengentasan rumor global.

    Tidak hanya penghargaan analisa, penghargaan penambahan Chair’s Award akan diberi. Dana sebesar 500 ribu poundsterling, sama dengan Rp9 miliar, akan diberi untuk pekerjaan analisa yang menonjolkan kemitraan yang kompak serta efisien serta memperantai transisi pengetahuan pengetahun. Penghargaan ini akan dipublikasikan di London pada 12 Februari 2020.

    UK Minister for Asia and the Pacific, Heather Wheeler, menjelaskan, dana riset ini sudah mengubah kerja sama riset Indonesia serta Inggris.

    ” Jumlahnya periset Inggris serta Indonesia yang bekerja bersama makin bertambah baik dalam bagian kesehatan, daya, keanekaragaman resapi atau pembangunan keberlanjutan yang menggerakkan perkembangan positif dalam kehidupan sebagian besar warga di Indonesia,” kata Wheeler.

    Jumlahnya Periset Naik

    Menteri Analisa serta Tehnologi Republik Indonesia / Kepala Tubuh Analisa serta Pengembangan Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro, menjelaskan, lewat Newton Fund jumlahnya analisa serta pengembangan di antara Indonesia serta Inggris sepanjang lima tahun paling akhir bertambah cepat.

    Sekitar 15 program kerjasama analisa serta pengembangan sudah digerakkan serta 22 penerimaan proposal riset sudah dikeluarkan.

    ” Lebih dari 200 periset serta praktisi iptek yang kamera digital canon terhimpun dalam 100 lembaga riset serta pendidikan tinggi di Inggris serta Indonesia, memperoleh keuntungan dari kemitraan yang didanai oleh Newton Fund itu,” kata Bambang.

    Program itu diperuntukkan untuk memberi dukungan inisiasi pembentukan kerjasama analisa serta pengembangan baru dan program tematik.

    Untuk topik kebencanaan, ada riset tentang efek bahaya hidrometeorologis, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor serta gelombang badai.

    Topik yang berkaitan dengan keanekaragaman resapi meliputi eksplorasi serta peningkatan pengetahuan ekosistem lokasi Wallacea serta topik yang berkaitan dengan bagian kesehatan seperti analisa penyakit menyebar.

    ” Saya mengharap kerjasama analisa serta pengembangan di antara Inggris serta Indonesia selalu bertambah, serta ke arah pada pendayagunaan keperluan warga serta penambahan substitusi import,” sebut ia.

    Juara Newton Prize Inggris-Indonesia akan dipublikasikan pada acara Newton Prize di Jakarta pada Selasa 14 Januari.

    Periset Inggris serta Indonesia yang memenangi Newton Prize 2019 akan hadiri acara yang diadakan Departemen BEIS di London pada Rabu 12 Februari, dimana project juara Chair Prize akan dipublikasikan.

    Analisa Rp10 M, ADB Membantu RI Bedah Efek Tehnologi Kekinian

    Dream – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyepakati kucuran dana US$750 ribu, seputar Rp10,2 miliar (Kurs Rp13.5660/US$) pada Indonesia. Dana ini adalah bentuk suport tehnis ADB untuk pelajari efek tehnologi disruptif pada potensial pembangunan di Indonesia.

    “ Suport tehnis ADB akan menolong memetakan efek tehnologi disruptif pada ekonomi Indonesia, baik dengan agregat atau pada tingkat sektoral,” kata Kepala Kantor Perwakilan ADB di Indonesia, Winfried Wicklein, diambil dari info tercatat yang diterima Dream, Selasa 12 Desember 2017.

    Wicklein menjelaskan Indonesia ialah satu negara dengan tingkat perkembangan pemakai internet paling cepat di dunia. Kekuatan faedah ekonomi digital buat Indonesia diperkirakan lumayan besar. Beberapa tanda seperti jalan raya internet, penghasilan dari service komputasi awan serta skema berkaitan (Internet of Things) tumbuh cepat.

    Ia menjelaskan aplikasi pemesanan transportasi online seperti Grab serta Go-Jek tidak cuma membuat pekerjaan, dan juga memberi pendapatan serta sarana lain seperti asuransi kesehatan serta akses pada perbankan yang lebih baik, bila dibanding dengan penyuplai service tradisionil.

    Tetapi, tehnologi disruptif bawa beberapa efek buat Indonesia berbentuk menyusutnya pekerjaan di bidang khusus serta kekuatan naiknya ketimpangan.

    “ Pertolongan tehnis ini akan memberi dukungan usaha pemerintah manfaatkan keuntungan tehnologi itu, sambil mengurus risikonya,” kata Wicklein.

    Sebatas info, pemerintah sudah meningkatkan “ 2020 Go Digital Vision” yang berkemauan jadikan Indonesia perekonomian digital paling besar di ASEAN pada 2020. Kebijaksanaan ekonomi ke-14 yang dikeluarkan tahun kemarin meliputi peta jalan mendalam untuk menggerakkan e-commerce. Pemerintah mempersiapkan beberapa tolok ukur serta program untuk menggerakkan tehnologi finansial (fintech) serta tehnologi yang lain jadi sisi dari usahanya mendesak kemiskinan serta kesejangan.

    “ Indonesia ada di persimpangan perkembangan tehnologi global,” kata Kepala Tubuh Kebijaksanaan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara.

    Suahasil menjelaskan pandangan yang lebih baik pada tema yang bertumbuh cepat sangat penting. Maksudnya supaya kebijaksanaan serta investasi simpatisan yang pas bisa diambil.

    Survey: Bahasa Inggris Warga Indonesia Anjlok, Rangking 61 dari 100 Negara

    Dream – Hasil riset EF Education First tunjukkan kemahiran berbahasa Inggris orang dewasa di Indonesia ada dibawah rata-rata beberapa negara Asia. Potensi warga Indonesia serta cuma ada di rangking 61 dari 100 negara yang disurvei.

    Laporan riset bertopik EF English Proficiency Index (EF EPI) edisi ke-9/2019, yang diatur berdasar analisis data hasil tes bahasa Inggris dengan online pada 2,3 juta peserta, itu tunjukkan score Indonesia cuma 50,06. Angka ini sedikit turun jika dibanding dengan tahun kemarin, yang sebesar 51.58.

    Pencapaian score Indonesia ada dibawah nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris lokasi Asia, dengan score 53.00, atau rangking ke-5 dibawah negara ASEAN yang lain, seperti Singapura (66.82), Filipina (60.04), Malaysia (58.55), serta Vietnam (51.57).

    Meskipun begitu, potensi score berbahasa Inggris di beberapa daerah di Indonesia makin bertambah. Penambahan paling tinggi di tahun 2019 yakni di kota Yogyakarta serta Bandung.

    Atas perolehan ini, EF Education First akan menganugerahi predikat Best Region serta Most Improved Region pada propinsi Yogyakarta serta Best City pada kota Bandung lewat penghargaan EF EPI Best Awards 2019.

    Cara Analisa

    Executive Director of Academic Affairs & Partnership EF Education First, Dr. Minh Tran, menjelaskan, potensi berbahasa Inggris memberikan kesempatan untuk melebarkan jaringan, mengerti satu inspirasi, serta studi masalah khusus.

    “ Diluar itu, potensi ini sangat mungkin tiap orang untuk memburu kesempatan karier yang lain sesuai perkembangan yang berlangsung dalam perekonomian atau kehidupan individu tersebut,” kata Minh, Rabu 11 Desember 2019.

    Analisis yang ditingkatkan EF EPI ini mengukur tingkat kemahiran berbahasa Inggris orang dewasa dari 100 negara serta daerah di dunia.

    Laporan ini diatur berdasar analisis data hasil dari tes bahasa Inggris yang dikerjakan oleh 2,3 juta peserta yang berperan serta lewat tes online EF Standar English Test (EFSET), tes bahasa Inggris adaptif yang dibuat oleh beberapa pakar untuk tahu potensi bahasa Inggris seperti tes-tes yang lain seperti TOEIC, TOEFL atau IELTS.

    Empat Negara di Benua Eropa

    Semua content tes pada EFSET sudah ditest awalnya pada beberapa ratus ribu pelajar internasional sepanjang tahun, di semua tingkat Common European Frame-work of Reference for Languages (CEFR), tips yang dipakai untuk menerangkan perolehan pelajar bahasa asing yang ditingkatkan, di setujui oleh Dewan Eropa serta disadari jadi standard internasional.

    Keseluruhannya, analisa EF EPI mengaitkan rerata score kecakapan bahasa Inggris di penjuru dunia bergerak konstan. Empat negara di benua Eropa, Belanda, Swedia, Norwegia, Denmark, jadi yang paling atas, diikuti Singapura, Afrika Selatan, Finlandia, Austria, Luksemburg, serta Jerman.

    “ Pada umumnya, jumlahnya peserta yang ikuti EF Standar English Test (EFSET) tahun ini naik 77 % dibanding tahun kemarin, ada delapan negara simpatisan baru yaitu Bahrain, Pantai Gading, Kenya, Kirgizstan, Maladewa, Nepal, Paraguay, serta Sudan, dan jalinan di antara kecakapan bahasa Inggris, keterkaitan internasional serta konektivitas global,” kata Minh.

Melihat 1 tulisan (dari total 1)

Anda harus log masuk untuk membalas topik ini.