Home Forum Riset UNU Cirebon Dunia Riset Indonesia, Riwayatmu Kini

Topik ini mengandung 0 balasan, memiliki 1 suara, dan terakhir diperbarui oleh  asepx 6 bulan, 3 minggu yang lalu.

Melihat 1 tulisan (dari total 1)
  • Penulis
    Tulisan-tulisan
  • #2531

    asepx
    Peserta

    Kenapa Analisa Indonesia tetap jadi perhatian ??? sebab kapasitas analisa Indonesia masih ketinggalan jauh dari negara yang lain. Kenapa juga analisa penting terdapatnya ??? sebab lewat analisa, beberapa pengetahuan baru banyak muncul, runtutan tehnologi baru terus ditingkatkan. Beberapa masalah serta masalah yang ditemui warga, bangsa kemungkinan diketemukan jawabannya lewat analisa.

    Memerhatikan sesaat beberapa Judul berita (media bikin serta online) sekitar Keadaan Analisa Indonesia modern; Dunia Analisa Indonesia Kurang Periset serta Terancam Putus Generasi, Muramnya Muka Dunia Analisa Indonesia, Potret Dunia Analisa Indonesia, Pemicu Dunia Analisa Indonesia Sulit Maju, Nasib Analisa Tanah Air, serta masih banyak judul berita yang lain tentang keadaan analisa indonesia.

    Intisari dari tema berita itu tidak terlepas dari kegundahan serta kebimbangan nasib analisa tanah air. Beberapa penulis serta nara sumber mengutarakan sekitar permaslahan dunia analisa Indonesia sekaligus juga coba tawarkan jalan keluar buat memajukan dunia analisa tanah air.

    Berikut ringkasan Akar Permasalahan serta jalan keluar Sekitar Dunia Analisa Indonesia yang diutarakan oleh beberapa ahli, pakar, pemerhati analisa Indonesia:

    Pertama. Skema Permodalan Analisa

    Skema permodalan analisa yang terikat dengan mode penerimaan negara bukan pajak (PNBP) telah semestinya diperhitungkan lagi. Dengan pola semacam ini, beberapa pundi penerimaan negara keliatannya dengan terselubung disuruh pada perguruan tinggi sebagai beban berat perguruan tinggi.

    Sejauh ini formulanya ialah besarnya dana analisa sesuai dengan besarnya dana PNBP. Mengakibatkan perguruan tinggi “sangat terpaksa” melayani pemenuhan faktor pemerataan, dengan terima mahasiswa banyak, daripada memajukan analisa di perguruan tinggi dengan bermutu serta tingkatkan kualitas.

    Dosen-dosen muda diminta mengajar banyak. Yang sebelumnya dua mata ajar, sama dengan 6 SKS, selanjutnya ditugaskan mengajar penambahan di diploma 3. Walau sebenarnya dosen muda harus menyelesaikan persiapan untuk studi kelanjutan, persiapan bahasa Inggris, serta turut analisa dengan dosen seniornya.

    Hal Ini membuat penawaran mengajar mendapatkan kontan money yang menarik, daripada tempuh dunia akademik yang berat diawalnya. Mengakibatkan kultur dosen untuk analisa tidak terjaga.

    Ke-2. Pola Analisa

    Pola analisa dengan skema saat ini lebih memprioritaskan perolehan administratif daripada intisari hasil analisa. Skema-skema analisa yang dikombinasi dengan nasional, masih biasa sifatnya tidak pecahkan bagian keilmuan dimana satu kampus jadi kuat.

    Kontrol proposal serta pemonitor analisa, berkesan pemenuhan faktor administratif benar-benar mencolok. Semua bukti autentik dipertunjukkan oleh dosen juara hibah. Tetapi saat di check publikasi, buku ajar, paten, atau hilirisasinya, banyak yang menangkis dengan sebaiknya dijanjikan diawalnya penentuan juara analisa.

    Dosen-dosen kita jadi “favorite” pelaksana seminar domestik serta internasional. Termasuk beberapa pengelola jurnal yang cari dosen-dosen kita serta tawarkan publikasi, yang nyatanya jurnalnya banyak yang bodong. Seminarnya lebih pada pemenuhan pertunjukan, sebab proses reviu dari pembicara benar-benar longgar.

    Ke-3. Research center di perguruan tinggi

    Research center di perguruan tinggi kita belum bertumbuh. Yang ada ialah instansi riset, liason officer-nya perguruan tinggi, yang mengurus administrasi analisa. Kontrak analisa banyak yang dikerjakan dengan individu. Walau sebenarnya, satu analisa harus ditangani lintas bagian serta tambah lebih baik hasilnya terinstitusionalisasi.

    Research center tidak bertumbuh, sebab semasing dosen tidak membudayakan proses analisa pada suatu lembaga analisa. Proses pembimbingan mahasiswa pun tidak berjalan dengan baik. Besar sangkaan pekerjaan seminar belum terwujud dengan baik.

    Hal Ini berefek jelek pada situasi akademik yang berlangsung di universitas-universitas. Jurnalnya pun tidak bertumbuh serta seringkali mati puncak sesudah beberapa edisi keluar. Anehnya prestasi membuahkan jurnal, publikasi berbentuk jurnal, atau buku ajar, tidak jadikan jadi satu penilaian buat prestasi dosen.

    Mengakibatkan dosen mempunyai potensi pindah untuk mengincar jabatan nonakademik, sekelas rektor/dekan atau pembantunya. Serta jarang-jarang yang ingin meneruskan analisa doktoralnya sesudah kembali pada perguruan tinggi ditempat.

    Dengan pola permodalan desentralisasi karena itu ada banyak ruangan gerak yang bisa diusulkan untuk memajukan analisa di Indonesia.

    Pertama, butuh peningkatan pola dosen periset pokok di semasing jurusan. Mereka yang dengan status dosen periset pokok mendapatkan amanat lebih kuat untuk membuahkan analisa akademik yang berkualitas. Pada mereka bisa diberi block grant analisa dengan target akhir publikasi, buku ajar, atau paten.

    Ke-2, proses riset bisa didorong lahir dalam research center/research grup, laboratorium di semasing kampus. Kelahiran research center yang ciri khas benar-benar membuat beberapa dosen berafiliasi di research center. Proses pembimbingan mahasiswa pascasarjana bisa berlangsung disana. Ini untuk jaga supaya berlangsung sustainability proses analisa yang oke.

    Ke-3, beberapa profesor bisa memajukan research center dengan terlebih dulu membuat payung riset yang strategis dalam periode panjang. Satu profesor bisa beranggotakan dua atau tiga doktor, dan mahasiswa calon doktor atau mahasiswa program master yang ikut serta dengan full time di research center.

    Saat tiga tingkatan itu dapat dibuat dalam peningkatan pendidikan tinggi, kemungkinan daya ungkit publikasi, buku ajar, atau paten membuat daya saing perguruan tinggi kita akan maju.

    Tujuan pendidikan tinggi sarjana seharusnya ditempatkan pada kualitas. Sesaat untuk perguruan tinggi yang sedikit risetnya, amanat edukasi bisa lebih mencolok, atau ditempatkan untuk calon angkatan kerja yang trampil

    Pemerintah terus menggerakkan dunia riset Tanah Air supaya semakin tingkatkan daya saing di arena dunia. Potret dunia analisa di Indonesia sendiri dihiasi beberapa permasalahan, dari mulai kurangnya dana serta sarana sampai minimnya animo industri.

    Dirjen Penguatan Analisa serta Peningkatan, Kemristekdikti, Dr Muhammad Dimyati menerangkan, banyak karya pengembangan anak bangsa masih memakai tehnologi asing. Diluar itu, kata Dimyati, ada banyak riset yang dikerjakan faksi asing tidak tercatat di instansi analisa atau perguruan tinggi Indonesia.

    Hal-hal lain yang di katakan Dr Muhammad Dimyati ialah tentang kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM). Banyak periset kita yang telah dekati waktu pensiun karenanya kita butuh mengambil peneliti-peneliti baru.

    Sedang untuk beberapa periset yang baru itu kan pun tidak muda, mereka harus dibina terlebih dulu. Sela di antara periset muda yang telah senior tinggi sekali. Hingga, bila periset senior telah pensiun, karena itu tidak ada periset.

    Diluar itu, tersedianya fasilitas serta prasarana jadi salah satunya permasalahan yang ada di dunia riset. Beberapa fasilitas serta prasarana yang berada di perguruan tinggi telah kedaluwarsa.

    Universitas Berbasiskan analisa

    Dalam masalah Indonesia, pengedepanan hasil kebijaksanaan berbasiskan analisa (policy-based research) serta hasil analisis berbasiskan analisa (evidence-based research) belum memperoleh perhatian lebih.

    Implikasinya, kebijaksanaan pemerintah yang dibuat sejauh ini dibikin berdasar logika by jadwal serta by issue, bukan by research. Keadaan itu yang mengakibatkan hasil analisa bertumpuk di gudang kantor pemerintah.

    Peranan litbang yang sebenarnya jadi instansi riset serta peningkatan malah dipelesetkan jadi instansi susah bertumbuh. Timbulnya akronim itu tunjukkan jika analisa ialah dunia satire serta ironi.

    Walau sekarang Dikti telah dikombinasi dengan Kemenristek, masih kurang dobrakan. Usaha menyinergikan analisa yang dikomandoi Dikti lewat PTN, PTS, serta Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai koordinator litbang di tiap kementerian serta non kementerian belum tunjukkan hasil relevan.

    Bagaimana dengan Analisa di Perguruan Tinggi

    Analisa di perguruan tinggi adalah komponen penting buat peningkatan kualitas pendidikan satu perguruan tinggi. Tanpa ada analisa, pengetahuan yang di ajarkan di perguruan tinggi cuma berdasarkan literatur-literatur terbelakang, yang logikanya jarang-jarang diperbarui .

    Oleh karenanya analisa jadi komponen penting dalam penetapan ranking perguruan tinggi terutamanya pada tingkat internasional, Bukan sekedar ranking kampus, tetapi tulisan serta analisa yang diterbitkan akan tingkatkan rekam jejak diri dosen atau periset juga.

    Potensi periset untuk membuahkan penelitian-penelitian yang bermutu internasional, diawali dengan karya penelitian-penelitian simpel. Sedang riset sederhanpun banyak yang dengan diawali pembiasaan diri tuangkan inspirasi dalam tulisan berupa chapter-chapter buku, yang setelah itu dirangkum jadi buku.

    Tiap Perguruan tinggi berkewajiban untuk tingkatkan budaya menulis, dari mulai chapter-chapter buku. memberikan keyakinan pada semua civitas akademika jika menulis buku itu tidak susah, seperti mempublikasikan harga kamera nikon hasil analisa di jurnal-jurnal ilmiah. Menulis buku tidak harus melalui seleksi kwalifikasi tema serta isi yang diisyaratkan oleh satu jurnal, dan tidak harus direview oleh beberapa reviewer.

    Perguruan tinggi harus membuat team-team dosen untuk menulis chapter-chapter buku khusus sesuai bagian semasing. Beberapa hal yang menarik berkaitan Indonesia adalah topik yang benar-benar menarik untuk dicatat serta ditelaah.

    Salah satunya contoh contoh di perguruan tinggi Australia, beberapa dosennya membudayakan menulis buku-buku itu, mempelajari serta mempublikasikannya dalam jurnal-jurnal ilmiah.

    Produktifitas dosen-dosen saat menulis buku serta membuahkan riset yang diterbitkan di jurnal-jurnal lmiah pasti meningkatkan ranking kampus sekaligus juga tingkatkan rekam jejak dosen tersebut,

    Bertaraf kolektif

    Arah riset di perguruan tinggi tidak kalah mulia dibanding dengan studi sebab jadi fundamen untuk berjalan ke depan, tidak cuma untuk dosen serta perguruan tinggi berkaitan, tetapi buat keberlanjutan bangsa.

    Dengan minimnya permodalan di Tanah Air, terbatas juga jumlah pekerjaan serta hasil riset. Dibanding dengan satu negara tetangga yang pernah berguru dari Indonesia serta saat ini membagikan dana yang besar, kita jauh ketinggalan dalam jumlahnya makalah pada jurnal internasional. Walau sebenarnya, publikasi skala dunia adalah ukuran penting buat prestasi riset.

    Kedalaman pandang

    Dari tahun ke tahun hasil industri manufaktur Indonesia condong menggunakan tehnologi rendah sampai menengah. Produk yang memercayakan tehnologi tinggi, seperti perlengkapan komunikasi, belum bertambah dengan relevan.

    Walau sebenarnya, pendayagunaan tehnologi tinggi paling berkesempatan memberi nilai lebih serta membutuhkan analisa untuk mengembangkannya. Pertanyaannya, akankah masih demikian sampai masa kelak?

    Riset ditempatkan untuk melahirkan setakar untuk setakar pandangan, teori, rumus, cara, tehnik, sekaligus juga memberi faedah pada periset yakni kelekatan yang erat dengan bagian yang ditelateni.

    Kedalaman pandang (insight) yang intensif pada bagian itu. Pada waktunya kelak, bangsa yang berjaya adalah bangsa yang siap serta memiliki kemampuan tinggi. Serta, potensi kuat tidak didapat saat itu juga dari mengambil, tapi lewat jalan panjang yang ditempuh dengan telaten. Karena itu, butuh sangkanya pemerintah, dunia pendidikan, usaha serta industri Indonesia membuat kebijaksanaan sekaligus juga investasi untuk analisa kita.

    Kemitraan Analisa

    Ketergantungan Indonesia pada tehnologi import nampaknya belum dapat diakhiri walau tidak kemungkinan terlepas seutuhnya. Tetapi, bila dapat meningkatkan kemandirian pasti akan memberikan keinginan semakin besar untuk sampai lompatan ke arah negara dan bangsa bermartabat. Untuk sampai mengarah itu, tentunya Indonesia akan tetap membutuhkan kemitraan strategis dengan beberapa negara maju.

    Kemitraan strategis di bagian ilmu dan pengetahuan serta tehnologi bukan saja dalam bentuk aplikasi tehnologi import di bidang industri, tetapi butuh diusahakan lewat penguatan kerjasama analisa yang sama dengan menyertakan instansi litbang serta perguruan tinggi dalam pengawasan ketat oleh pemerintah.

    Pemerintah tidak kemungkinan harus diam diri pada eksploitasi instansi litbang serta perguruan tinggi oleh faksi asing dalam kemitraan analisa. Fakta ini bisa disaksikan dari cenderung klaim pemilikan atas hak kekayaam cendekiawan (HKI) oleh instansi litbang serta perguruan tinggi tidak menggambarkan jadi hasil kemitraan analisa dengan faksi asing.

    Sesaat jumlahnya permintaan izin riset oleh periset asing rata-rata sampai 400 buah proposal dalam satu tahun. Kenyataannya, banyak hasil riset yang dikerjakan orang asing di Indonesia, walau lewat kemitraan analisa dengan instansi litbang atau perguruan tinggi, miliknya diklaim dengan sepihak oleh faksi asing. Kondisi demikian telah berjalan lumayan lama, jauh sebelum ketentuan mengenai izin riset buat orang asing dibikin.

    Kemitraan Imbang

    Tidak bisa disangkal jika Indonesia membutuhkan kemitraan yang lebih erat dengan beberapa negara industri maju di bagian peningkatan ilmu dan pengetahuan serta tehnologi.

    Namun, kemitraan tersebut sebaiknya tidak menggiring Indonesia pada urutan sebatas pendampingan saja. Tetapi, harus dapat tangkap urutan jadi partner penting yang terjebak langsung dalam pekerjaan riset itu.

    Satu izin riset yang diberi Kementerian Analisa, Tehnologi serta Pendidikan Tinggi pada perguruan tinggi asing, instansi riset serta peningkatan asing, tubuh usaha asing, dan orang asing, terkadang tidak membawa hasil riset yang bisa diklaim jadi punya bersamanya. Keadaan itu dikarenakan oleh kekurangsiapan partner riset dalam negeri, khususnya tidak didukung persetujuan awal yang kuat dalam kesepakatan risetnya.

    Walau sebenarnya, tiap pekerjaan riset yang dikerjakan orang asing di Indonesia seyogianya bisa memberi faedah luas buat peningkatan iptek tersebut. Tidak cuma hanya pada faedah finansial yang didapat dari ongkos perizinan serta peningkatan. Karenanya, pekerjaan riset selalu harus dalam kerangka kemitraan yang imbang.

    Seringkali, pendampingan pekerjaan periset asing oleh tenaga pakar Indonesia lebih terlihat bertindak jadi pemandu serta penerjemah bahasa. Sesaat beberapa hal yang berbentuk signifikan malah lepas dari perhatian periset partner pendamping.

    Arah penting dari penataan izin riset buat orang asing tersebut seperti ditata dalam Ketentuan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006 ialah membuat perlindungan kebutuhan Indonesia.

    Pertama, tidak bisa berlangsung eksploitasi serta pencurian atas sampel yang mengambil sumber dari kekayaan alam Indonesia, mencakup keanekaragaman resapi atau non-hayati, artefak dan lain-lain.

    Ke-2, tercapainya transfer of knowledge dari periset asing pada periset Indonesia, bukan sebaliknya. Serta, ke-3, menahan berlangsungnya perebutan dengan sepihak berdasar hasil riset yang dikerjakan dengan bersama di Indonesia.

    Demikian ringkasan catatan yang di himpun dari beberapa sumber, mudah-mudahan berguna. Masih semangat serta sukses terus dalam kerja serta berkaryaKenapa Analisa Indonesia tetap jadi perhatian ??? sebab kapasitas analisa Indonesia masih ketinggalan jauh dari negara yang lain. Kenapa juga analisa penting terdapatnya ??? sebab lewat analisa, beberapa pengetahuan baru banyak muncul, runtutan tehnologi baru terus ditingkatkan. Beberapa masalah serta masalah yang ditemui warga, bangsa kemungkinan diketemukan jawabannya lewat analisa.

    Memerhatikan sesaat beberapa Judul berita (media bikin serta online) sekitar Keadaan Analisa Indonesia modern; Dunia Analisa Indonesia Kurang Periset serta Terancam Putus Generasi, Muramnya Muka Dunia Analisa Indonesia, Potret Dunia Analisa Indonesia, Pemicu Dunia Analisa Indonesia Sulit Maju, Nasib Analisa Tanah Air, serta masih banyak judul berita yang lain tentang keadaan analisa indonesia.

    Intisari dari tema berita itu tidak terlepas dari kegundahan serta kebimbangan nasib analisa tanah air. Beberapa penulis serta nara sumber mengutarakan sekitar permaslahan dunia analisa Indonesia sekaligus juga coba tawarkan jalan keluar buat memajukan dunia analisa tanah air.

    Berikut ringkasan Akar Permasalahan serta jalan keluar Sekitar Dunia Analisa Indonesia yang diutarakan oleh beberapa ahli, pakar, pemerhati analisa Indonesia:

    Pertama. Skema Permodalan Analisa

    Skema permodalan analisa yang terikat dengan mode penerimaan negara bukan pajak (PNBP) telah semestinya diperhitungkan lagi. Dengan pola semacam ini, beberapa pundi penerimaan negara keliatannya dengan terselubung disuruh pada perguruan tinggi sebagai beban berat perguruan tinggi.

    Sejauh ini formulanya ialah besarnya dana analisa sesuai dengan besarnya dana PNBP. Mengakibatkan perguruan tinggi “sangat terpaksa” melayani pemenuhan faktor pemerataan, dengan terima mahasiswa banyak, daripada memajukan analisa di perguruan tinggi dengan bermutu serta tingkatkan kualitas.

    Dosen-dosen muda diminta mengajar banyak. Yang sebelumnya dua mata ajar, sama dengan 6 SKS, selanjutnya ditugaskan mengajar penambahan di diploma 3. Walau sebenarnya dosen muda harus menyelesaikan persiapan untuk studi kelanjutan, persiapan bahasa Inggris, serta turut analisa dengan dosen seniornya.

    Hal Ini membuat penawaran mengajar mendapatkan kontan money yang menarik, daripada tempuh dunia akademik yang berat diawalnya. Mengakibatkan kultur dosen untuk analisa tidak terjaga.

    Ke-2. Pola Analisa

    Pola analisa dengan skema saat ini lebih memprioritaskan perolehan administratif daripada intisari hasil analisa. Skema-skema analisa yang dikombinasi dengan nasional, masih biasa sifatnya tidak pecahkan bagian keilmuan dimana satu kampus jadi kuat.

    Kontrol proposal serta pemonitor analisa, berkesan pemenuhan faktor administratif benar-benar mencolok. Semua bukti autentik dipertunjukkan oleh dosen juara hibah. Tetapi saat di check publikasi, buku ajar, paten, atau hilirisasinya, banyak yang menangkis dengan sebaiknya dijanjikan diawalnya penentuan juara analisa.

    Dosen-dosen kita jadi “favorite” pelaksana seminar domestik serta internasional. Termasuk beberapa pengelola jurnal yang cari dosen-dosen kita serta tawarkan publikasi, yang nyatanya jurnalnya banyak yang bodong. Seminarnya lebih pada pemenuhan pertunjukan, sebab proses reviu dari pembicara benar-benar longgar.

    Ke-3. Research center di perguruan tinggi

    Research center di perguruan tinggi kita belum bertumbuh. Yang ada ialah instansi riset, liason officer-nya perguruan tinggi, yang mengurus administrasi analisa. Kontrak analisa banyak yang dikerjakan dengan individu. Walau sebenarnya, satu analisa harus ditangani lintas bagian serta tambah lebih baik hasilnya terinstitusionalisasi.

    Research center tidak bertumbuh, sebab semasing dosen tidak membudayakan proses analisa pada suatu lembaga analisa. Proses pembimbingan mahasiswa pun tidak berjalan dengan baik. Besar sangkaan pekerjaan seminar belum terwujud dengan baik.

    Hal Ini berefek jelek pada situasi akademik yang berlangsung di universitas-universitas. Jurnalnya pun tidak bertumbuh serta seringkali mati puncak sesudah beberapa edisi keluar. Anehnya prestasi membuahkan jurnal, publikasi berbentuk jurnal, atau buku ajar, tidak jadikan jadi satu penilaian buat prestasi dosen.

    Mengakibatkan dosen mempunyai potensi pindah untuk mengincar jabatan nonakademik, sekelas rektor/dekan atau pembantunya. Serta jarang-jarang yang ingin meneruskan analisa doktoralnya sesudah kembali pada perguruan tinggi ditempat.

    Dengan pola permodalan desentralisasi karena itu ada banyak ruangan gerak yang bisa diusulkan untuk memajukan analisa di Indonesia.

    Pertama, butuh peningkatan pola dosen periset pokok di semasing jurusan. Mereka yang dengan status dosen periset pokok mendapatkan amanat lebih kuat untuk membuahkan analisa akademik yang berkualitas. Pada mereka bisa diberi block grant analisa dengan target akhir publikasi, buku ajar, atau paten.

    Ke-2, proses riset bisa didorong lahir dalam research center/research grup, laboratorium di semasing kampus. Kelahiran research center yang ciri khas benar-benar membuat beberapa dosen berafiliasi di research center. Proses pembimbingan mahasiswa pascasarjana bisa berlangsung disana. Ini untuk jaga supaya berlangsung sustainability proses analisa yang oke.

    Ke-3, beberapa profesor bisa memajukan research center dengan terlebih dulu membuat payung riset yang strategis dalam periode panjang. Satu profesor bisa beranggotakan dua atau tiga doktor, dan mahasiswa calon doktor atau mahasiswa program master yang ikut serta dengan full time di research center.

    Saat tiga tingkatan itu dapat dibuat dalam peningkatan pendidikan tinggi, kemungkinan daya ungkit publikasi, buku ajar, atau paten membuat daya saing perguruan tinggi kita akan maju.

    Tujuan pendidikan tinggi sarjana seharusnya ditempatkan pada kualitas. Sesaat untuk perguruan tinggi yang sedikit risetnya, amanat edukasi bisa lebih mencolok, atau ditempatkan untuk calon angkatan kerja yang trampil

    Pemerintah terus menggerakkan dunia riset Tanah Air supaya semakin tingkatkan daya saing di arena dunia. Potret dunia analisa di Indonesia sendiri dihiasi beberapa permasalahan, dari mulai kurangnya dana serta sarana sampai minimnya animo industri.

    Dirjen Penguatan Analisa serta Peningkatan, Kemristekdikti, Dr Muhammad Dimyati menerangkan, banyak karya pengembangan anak bangsa masih memakai tehnologi asing. Diluar itu, kata Dimyati, ada banyak riset yang dikerjakan faksi asing tidak tercatat di instansi analisa atau perguruan tinggi Indonesia.

    Hal-hal lain yang di katakan Dr Muhammad Dimyati ialah tentang kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM). Banyak periset kita yang telah dekati waktu pensiun karenanya kita butuh mengambil peneliti-peneliti baru.

    Sedang untuk beberapa periset yang baru itu kan pun tidak muda, mereka harus dibina terlebih dulu. Sela di antara periset muda yang telah senior tinggi sekali. Hingga, bila periset senior telah pensiun, karena itu tidak ada periset.

    Diluar itu, tersedianya fasilitas serta prasarana jadi salah satunya permasalahan yang ada di dunia riset. Beberapa fasilitas serta prasarana yang berada di perguruan tinggi telah kedaluwarsa.

    Universitas Berbasiskan analisa

    Dalam masalah Indonesia, pengedepanan hasil kebijaksanaan berbasiskan analisa (policy-based research) serta hasil analisis berbasiskan analisa (evidence-based research) belum memperoleh perhatian lebih.

    Implikasinya, kebijaksanaan pemerintah yang dibuat sejauh ini dibikin berdasar logika by jadwal serta by issue, bukan by research. Keadaan itu yang mengakibatkan hasil analisa bertumpuk di gudang kantor pemerintah.

    Peranan litbang yang sebenarnya jadi instansi riset serta peningkatan malah dipelesetkan jadi instansi susah bertumbuh. Timbulnya akronim itu tunjukkan jika analisa ialah dunia satire serta ironi.

    Walau sekarang Dikti telah dikombinasi dengan Kemenristek, masih kurang dobrakan. Usaha menyinergikan analisa yang dikomandoi Dikti lewat PTN, PTS, serta Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai koordinator litbang di tiap kementerian serta non kementerian belum tunjukkan hasil relevan.

    Bagaimana dengan Analisa di Perguruan Tinggi

    Analisa di perguruan tinggi adalah komponen penting buat peningkatan kualitas pendidikan satu perguruan tinggi. Tanpa ada analisa, pengetahuan yang di ajarkan di perguruan tinggi cuma berdasarkan literatur-literatur terbelakang, yang logikanya jarang-jarang diperbarui .

    Oleh karenanya analisa jadi komponen penting dalam penetapan ranking perguruan tinggi terutamanya pada tingkat internasional, Bukan sekedar ranking kampus, tetapi tulisan serta analisa yang diterbitkan akan tingkatkan rekam jejak diri dosen atau periset juga.

    Potensi periset untuk membuahkan penelitian-penelitian yang bermutu internasional, diawali dengan karya penelitian-penelitian simpel. Sedang riset sederhanpun banyak yang dengan diawali pembiasaan diri tuangkan inspirasi dalam tulisan berupa chapter-chapter buku, yang setelah itu dirangkum jadi buku.

    Tiap Perguruan tinggi berkewajiban untuk tingkatkan budaya menulis, dari mulai chapter-chapter buku. memberikan keyakinan pada semua civitas akademika jika menulis buku itu tidak susah, seperti mempublikasikan hasil analisa di jurnal-jurnal ilmiah. Menulis buku tidak harus melalui seleksi kwalifikasi tema serta isi yang diisyaratkan oleh satu jurnal, dan tidak harus direview oleh beberapa reviewer.

    Perguruan tinggi harus membuat team-team dosen untuk menulis chapter-chapter buku khusus sesuai bagian semasing. Beberapa hal yang menarik berkaitan Indonesia adalah topik yang benar-benar menarik untuk dicatat serta ditelaah.

    Salah satunya contoh contoh di perguruan tinggi Australia, beberapa dosennya membudayakan menulis buku-buku itu, mempelajari serta mempublikasikannya dalam jurnal-jurnal ilmiah.

    Produktifitas dosen-dosen saat menulis buku serta membuahkan riset yang diterbitkan di jurnal-jurnal lmiah pasti meningkatkan ranking kampus sekaligus juga tingkatkan rekam jejak dosen tersebut,

    Bertaraf kolektif

    Arah riset di perguruan tinggi tidak kalah mulia dibanding dengan studi sebab jadi fundamen untuk berjalan ke depan, tidak cuma untuk dosen serta perguruan tinggi berkaitan, tetapi buat keberlanjutan bangsa.

    Dengan minimnya permodalan di Tanah Air, terbatas juga jumlah pekerjaan serta hasil riset. Dibanding dengan satu negara tetangga yang pernah berguru dari Indonesia serta saat ini membagikan dana yang besar, kita jauh ketinggalan dalam jumlahnya makalah pada jurnal internasional. Walau sebenarnya, publikasi skala dunia adalah ukuran penting buat prestasi riset.

    Kedalaman pandang

    Dari tahun ke tahun hasil industri manufaktur Indonesia condong menggunakan tehnologi rendah sampai menengah. Produk yang memercayakan tehnologi tinggi, seperti perlengkapan komunikasi, belum bertambah dengan relevan.

    Walau sebenarnya, pendayagunaan tehnologi tinggi paling berkesempatan memberi nilai lebih serta membutuhkan analisa untuk mengembangkannya. Pertanyaannya, akankah masih demikian sampai masa kelak?

    Riset ditempatkan untuk melahirkan setakar untuk setakar pandangan, teori, rumus, cara, tehnik, sekaligus juga memberi faedah pada periset yakni kelekatan yang erat dengan bagian yang ditelateni.

    Kedalaman pandang (insight) yang intensif pada bagian itu. Pada waktunya kelak, bangsa yang berjaya adalah bangsa yang siap serta memiliki kemampuan tinggi. Serta, potensi kuat tidak didapat saat itu juga dari mengambil, tapi lewat jalan panjang yang ditempuh dengan telaten. Karena itu, butuh sangkanya pemerintah, dunia pendidikan, usaha serta industri Indonesia membuat kebijaksanaan sekaligus juga investasi untuk analisa kita.

    Kemitraan Analisa

    Ketergantungan Indonesia pada tehnologi import nampaknya belum dapat diakhiri walau tidak kemungkinan terlepas seutuhnya. Tetapi, bila dapat meningkatkan kemandirian pasti akan memberikan keinginan semakin besar untuk sampai lompatan ke arah negara dan bangsa bermartabat. Untuk sampai mengarah itu, tentunya Indonesia akan tetap membutuhkan kemitraan strategis dengan beberapa negara maju.

    Kemitraan strategis di bagian ilmu dan pengetahuan serta tehnologi bukan saja dalam bentuk aplikasi tehnologi import di bidang industri, tetapi butuh diusahakan lewat penguatan kerjasama analisa yang sama dengan menyertakan instansi litbang serta perguruan tinggi dalam pengawasan ketat oleh pemerintah.

    Pemerintah tidak kemungkinan harus diam diri pada eksploitasi instansi litbang serta perguruan tinggi oleh faksi asing dalam kemitraan analisa. Fakta ini bisa disaksikan dari cenderung klaim pemilikan atas hak kekayaam cendekiawan (HKI) oleh instansi litbang serta perguruan tinggi tidak menggambarkan jadi hasil kemitraan analisa dengan faksi asing.

    Sesaat jumlahnya permintaan izin riset oleh periset asing rata-rata sampai 400 buah proposal dalam satu tahun. Kenyataannya, banyak hasil riset yang dikerjakan orang asing di Indonesia, walau lewat kemitraan analisa dengan instansi litbang atau perguruan tinggi, miliknya diklaim dengan sepihak oleh faksi asing. Kondisi demikian telah berjalan lumayan lama, jauh sebelum ketentuan mengenai izin riset buat orang asing dibikin.

    Kemitraan Imbang

    Tidak bisa disangkal jika Indonesia membutuhkan kemitraan yang lebih erat dengan beberapa negara industri maju di bagian peningkatan ilmu dan pengetahuan serta tehnologi.

    Namun, kemitraan tersebut sebaiknya tidak menggiring Indonesia pada urutan sebatas pendampingan saja. Tetapi, harus dapat tangkap urutan jadi partner penting yang terjebak langsung dalam pekerjaan riset itu.

    Satu izin riset yang diberi Kementerian Analisa, Tehnologi serta Pendidikan Tinggi pada perguruan tinggi asing, instansi riset serta peningkatan asing, tubuh usaha asing, dan orang asing, terkadang tidak membawa hasil riset yang bisa diklaim jadi punya bersamanya. Keadaan itu dikarenakan oleh kekurangsiapan partner riset dalam negeri, khususnya tidak didukung persetujuan awal yang kuat dalam kesepakatan risetnya.

    Walau sebenarnya, tiap pekerjaan riset yang dikerjakan orang asing di Indonesia seyogianya bisa memberi faedah luas buat peningkatan iptek tersebut. Tidak cuma hanya pada faedah finansial yang didapat dari ongkos perizinan serta peningkatan. Karenanya, pekerjaan riset selalu harus dalam kerangka kemitraan yang imbang.

    Seringkali, pendampingan pekerjaan periset asing oleh tenaga pakar Indonesia lebih terlihat bertindak jadi pemandu serta penerjemah bahasa. Sesaat beberapa hal yang berbentuk signifikan malah lepas dari perhatian periset partner pendamping.

    Arah penting dari penataan izin riset buat orang asing tersebut seperti ditata dalam Ketentuan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006 ialah membuat perlindungan kebutuhan Indonesia.

    Pertama, tidak bisa berlangsung eksploitasi serta pencurian atas sampel yang mengambil sumber dari kekayaan alam Indonesia, mencakup keanekaragaman resapi atau non-hayati, artefak dan lain-lain.

    Ke-2, tercapainya transfer of knowledge dari periset asing pada periset Indonesia, bukan sebaliknya. Serta, ke-3, menahan berlangsungnya perebutan dengan sepihak berdasar hasil riset yang dikerjakan dengan bersama di Indonesia.

    Demikian ringkasan catatan yang di himpun dari beberapa sumber, mudah-mudahan berguna. Masih semangat serta sukses terus dalam kerja serta berkarya

Melihat 1 tulisan (dari total 1)

Anda harus log masuk untuk membalas topik ini.